Key points
- Brand kecantikan D2C bisa bersaing dalam ranah digital marketing karena ada keleluasaan berinteraksi secara langsung dengan pelanggan untuk mengetahui preferensi mereka.
- Agar lebih efektif, brand kecantikan D2C dapat menggabungkan keunggulan mereka dengan tren digital marketing yang sedang populer saat ini.
- Beberapa contohnya adalah meningkatnya permintaan terhadap inklusivitas, konsistensi dalam omnichannel, accessible luxury, community-based marketing, dan transparansi produksi.
Data dari East Ventures Capital menunjukkan bahwa pasar kecantikan Indonesia telah bernilai sebesar 7 miliar USD per tahun 2024, dan akan mengalami pertumbuhan sebesar 10% setiap tahunnya. Peningkatan ini membawa persaingan ketat, sehingga brand kecantikan perlu strategi digital marketing d2c berbasis tren terkini agar tetap kompetitif.Â
Sebab, dengan kampanye pemasaran digital yang tepat dan mempertimbangkan preferensi konsumen saat ini, Anda bisa memaksimalkan online presence, membangun reputasi positif, serta menjaga kestabilan penjualan dari pelanggan setia. Jadi, tren apa saja yang perlu Anda perhatikan?
Keunggulan Brand Kecantikan D2C dalam Marketing
Model D2C ternyata memiliki kelebihan sendiri dalam pemasaran digital. Ketiadaan perantara pihak ketika memberikan Anda fleksibilitas dalam mengontrol seluruh aspek pemasaran, mulai dari brand positioning hingga customer experience.Â
Jadi, Anda bisa berinteraksi secara langsung dengan pelanggan untuk mengumpulkan data pribadi yang relevan, asalkan dengan persetujuan mereka. Dengan banyaknya data pelanggan yang tersedia, Anda pun dapat menciptakan strategi yang lebih personal untuk meningkatkan loyalitas dan retensi.Â
Di saat yang bersamaan, keleluasaan model D2C juga memberikan Anda banyak kesempatan untuk bereksperimen dengan tren serta berbagai format digital marketing. Contohnya, influencer marketing, social commerce, dan community-based marketing untuk memperkuat brand advocacy.
Tren Digital Marketing Beauty Brand D2C yang Perlu Diperhatikan
Dengan mempertimbangkan semua keunggulan di atas, berikut adalah beberapa tren yang bisa Anda pertimbangkan untuk strategi promosi brand kecantikan D2C secara digital:
1. Penekanan inklusivitas dalam konten
Pelanggan kini semakin menginginkan produk kecantikan yang lebih inklusif, baik dari segi warna kulit, gender, maupun kebutuhan spesifik. Bahkan, menurut studi dari Kantar, 75% pelanggan global lebih cenderung membeli dari brand yang mempromosikan keberagaman.Â
Pada akhirnya, strategi ini bisa menguntungkan. Contohnya, Fenty Beauty yang bermula sebagai brand D2C berhasil meraih kesuksesan dengan strategi foundation “40 shades for all skin tones.”Â
Dikutip dari Latterly, elemen inklusivitas tersebut konsisten meningkatkan pendapatan Fenty Beauty sebesar 100 juta USD setiap tahunnya. Jadi, brand yang mengedepankan keberagaman dalam kontennya dapat menarik audiens yang lebih luas.Â
2. Konsistensi dalam omnichannel
Konsumen tidak lagi hanya berinteraksi dengan brand melalui satu kanal. Capital One Shopping menemukan bahwa seorang konsumen bisa berinteraksi dengan rata-rata 6 touchpoint sebelum membeli sebuah produk.Â
Selain itu, mereka menginginkan pengalaman yang konsisten di berbagai platform, mulai dari media sosial, e-commerce, hingga toko fisik. Dengan kata lain, strategi omnichannel yang efektif memastikan pelanggan mendapatkan informasi dan pengalaman yang seragam di semua channel pemasaran.Â
3. Penekanan pada community marketing
Komunitas memiliki peran besar dalam membangun loyalitas brand. Sebab, pelanggan ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Hal ini terbukti dari data Tintup yang menunjukkan bahwa 76,6% pelanggan berharap brand kecantikan favorit mereka memiliki komunitas khusus.
Dengan kata lain, brand yang aktif membangun komunitas melalui media sosial, event eksklusif, atau user-generated content, dapat meningkatkan retensi pelanggan secara signifikan. Apalagi, masih menurut sumber yang sama, 73,6% pelanggan lebih terdorong untuk belanja dari sebuah brand karena presensi komunitasnya yang kuat di internet.
4. Accessible luxury menjadi kunci
Menurut laporan Nielsen, 68% konsumen Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk yang memberikan pengalaman mewah selama masih mudah diakses. Terutama, jika brand tersebut mempertimbangkan kebutuhan serta selera mereka dalam desainnya.
Konsep accessible luxury menjadi strategi utama brand D2C untuk menarik perhatian pelanggan yang menginginkan kemewahan tanpa harga premium. Misalnya, dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi yang dikemas dalam desain elegan, tetapi harganya tetap terjangkau.
5. Transparansi produksi dalam konten
Studi dari Label Insight menunjukkan bahwa 94% konsumen lebih setia pada brand yang menerapkan transparansi dalam produknya. Sebab, konsumen saat ini lebih kritis terhadap produk yang mereka gunakan, terutama dalam industri kecantikan.Â
Artinya, mereka ingin mengetahui bahan baku, proses produksi, hingga dampak lingkungan dari produk yang mereka beli. Jadi, dengan menerapkan strategi digital marketing yang menonjolkan hal ini, Anda dapat membangun kepercayaan pelanggan.
Mengikuti tren digital marketing terbaru bukan sekadar pilihan. Justru, ini merupakan keharusan bagi brand D2C yang ingin tetap relevan di tengah persaingan ketat. IDEOWORKS hadir sebagai solusi bagi brand kecantikan D2C yang ingin mengoptimalkan strategi pemasaran digital.Â
Dengan pengalaman dalam membangun strategi berbasis data, kampanye omnichannel, dan community-driven marketing selama lebih dari 10 tahun, IDEOWORKS siap membantu brand kecantikan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Mari berkonsultasi lebih lanjut bersama kami untuk mengembangkan brand Anda!
