Articles

01 Oktober 2021

Meraba Perilaku Konsumen di Masa Pandemi

Satu setengah tahun sudah pandemi Covid-19 melanda dunia. Penyakit yang disebabkan virus SARS-Cov-2 ini memaksa semua orang melakukan pembatasan sosial. Hal ini mempengaruhi konsumen dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam membeli kebutuhan sehari-hari. Karena itu pula, perusahaan perlu mencermati perubahan perilaku konsumen di era digitalisasi ini. Jasa digital marketing agency pun bisa membantu perusahaan membaca pergeseran perilaku konsumen tersebut.

Kebiasaan baru masyarakat dunia tergambar dalam survei Global Consumer Insights Pulse oleh PWC pada Juni 2021. Survei yang melibatkan 8.600 lebih konsumen di 22 kota beberapa negara menunjukkan pergeseran perilaku konsumen.

PWC memaparkan enam bulan sejak survei perilaku konsumen pertama dilakukan pada Oktober 2020-Maret 2021, konsumen yang terlibat dalam survei kini menjadi lebih digital dan ramah lingkungan. Konsumen juga tercatat semakin peduli dengan aspek kesehatan, kelokalan, dan sadar akan pentingnya data.

Untuk itu, perusahaan perlu mempertimbangkan strategi penjualan yang seiring dengan pergeseran perilaku konsumen tersebut. Dalam menyusun strategi ini, perusahaan bisa mencari digital marketing agency terbaik yang dapat membantu perusahaan mencapai target penjualan.

Terlebih lagi, perubahan perilaku konsumen saat pandemi ini diperkirakan akan permanen. Artinya, perusahaan harus beradaptasi dengan pergeseran perilaku konsumen dengan melakukan berbagai inovasi yang tak lepas dari digitalisasi. Jasa digital marketing agency pun bisa mengarahkan perusahaan demi tak ketinggalan jaman.

Berikut ini sejumlah perilaku konsumen yang mengalami perubahan:

Pertama, konsumen fokus pada harga dan kebutuhan serta mempertimbangkan faktor kesehatan. Survei PWC mencatat, 59% konsumen mengatakan lebih berorientasi kepada harga (price oriented) dan 50% mengaku lebih memilih produk eco-friendly atau ramah lingkungan.

Pandemi yang memberikan keterbatasan memang telah berdampak pada perputaran ekonomi yang pada akhirnya turut memukul pendapatan masyarakat. Daya beli yang menurun itu membuat masyarakat hanya membeli kebutuhan yang prioritas seperti makanan pokok dan produk kesehatan serta kebersihan. Sementara kebutuhan-kebutuhan yang kurang esensial dikesampingkan.

Konsumen juga lebih memperhatikan faktor kesehatan. Karena itu, perusahaan bisa menyiasati dengan menawarkan promo, diskon, atau paket bundling produk-produk esensial. Adapun produk-produk yang banyak dicari adalah kebutuhan sanitasi, seperti tisu, sabun, hand sanitizer, desinfektan, hingga produk kebutuhan sehari-hari seperti makanan sehat, suplemen, atau minuman-minuman kaya gizi.

Kedua, semua transaksi dilakukan secara online. Proses digitalisasi dalam kehidupan masyarakat dipastikan semakin cepat terjadi karena adanya pandemi. Beragam kebijakan social distancing membuat hampir semua kegiatan dilakukan secara online. Sebut saja, belanja kebutuhan rumah tangga hingga akses layanan internet untuk sekolah daring, bekerja di rumah, hiburan, telemedicine hingga berolahraga.

Baca Juga  Menggunakan Marketing Automation Demi Efisiensi

Uniknya, kegiatan belanja online yang awalnya didominasi oleh generasi milenial kini juga diperkirakan akan menyebar ke generasi-generasi lainnya seperti generasi X dan boomer.

Survei Global Consumer Insights Pulse oleh PWC pada Juni 2021 juga mencatat dalam 12 bulan terakhir, sebanyak 34% responden berbelanja online melalui perangkat komputer dan 38% melalui tablet. Adapun konsumen yang berbelanja via smartphone mencapai 44%. Terakhir, konsumen yang berbelanja melalui smart home voice assistants mencapai 42%.

PWC dalam survei tersebut menambahkan ada beberapa pertimbangan penting terkait pola belanja daring. Pertama, konsumen menginginkan adanya pengalaman secara virtual terkait produk yakni 30% melalui augmented reality (AR) technology, 9% melalui konsultasi secara virtual, dan 9% melalui kolom chat di platform digital.

Ketiga, pergeseran belanja ke aktivitas online ini membuat model bisnis berlangganan (subscription) memiliki potensi untuk berkembang. Pasalnya, belanja online kemudian dilakukan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pelanggan pun bisa mendapatkan alternatif  yang lebih hemat biaya dan efisien.

Keempat, konsumen semakin membutuhkan layanan yang cepat, efisien, dan bebas kontak. Pembayaran cashless atau non-tunai juga semakin diminati seiring imbauan WHO agar transaksi tidak menggunakan uang tunai.

Bersamaan dengan itu, survei perubahan perilaku konsumen oleh PWC juga menyebutkan konsumen yang berbelanja secara online mengharapkan adanya fitur pembayaran minim kontak sebanyak 23% responden. Begitu juga dengan harapan konsumen dengan adanya fitur yang bisa menavigasi konsumen pada produk yang disenangi sebanyak 38%. Responden survei tersebut juga mengharapkan adanya fitur yang mampu menavigasi mereka ke situs yang akan menjual kebutuhan mereka.

Untuk itu, perusahaan bisa mengandalkan digital marketing agency terbaik untuk mengarahkan perusahaan mencapai promosi terbaiknya di ranah digital. Design agency di Jakarta misalnya, juga bisa membantu perusahaan memilih sosial media yang cocok sebagai etalase perusahaan dalam memasarkan produknya.

Kami, IDEOWORKS dapat membantu Anda membaca perubahan perilaku konsumen di masa pandemi yang pada akhirnya bisa memilih desain promosi digital yang terbaik. Sebagai salah satu digital marketing agency Indonesia, IDEOWORKS mempunyai tim creative design yang handal dan dapat mengakomodasi kebutuhan pemasaran digital Anda.

More Info

CONTACT US

Address

Pejaten Barat 46, Pasar Minggu

Jakarta Selatan 12510 INDONESIA

Email marketing@ideoworks.co.id

Phone/WA +62 812 9000 66150

Back to top