Tren Media Sosial yang Harus Diperhatikan di Tahun 2022

  • Augmented Reality dan Artificial Intelligence

Istilah metaverse pertama kali diciptakan dalam novel fiksi ilmiah tahun 1992 berjudul Snow Crash. Tujuannya adalah untuk menciptakan dunia virtual yang sama sekali baru. Mark Zuckerberg melanjutkan impian fiksi tersebut dengan menggabungkan game, media sosial, hiburan, e-commerce, dan lingkungan kerja ke dalam platform virtual reality dan augmented reality yang dapat digunakan semua orang. Walaupun begitu, Facebook bukanlah yang pertama dalam menggunakan AR dan AI ini. IKEA lebih dulu menggunakan AR untuk membantu konsumen menempatkan furniture virtual ke dalam rumah mereka sendiri sebelum membeli. Maybelline menggunakan teknologi serupa untuk pengaplikasian make up yang mereka jual dengan teknologi Makeup Studio.

  • Berkembangnya Konten Bersifat Sementara

Dengan munculnya Facebook Stories, Instagram Reels and Stories, dan Snapchat Stories, popularitas konten bersifat sementara telah meningkat secara eksponensial selama beberapa tahun terakhir. “Blink or you’ll miss it” menjadi penggoda bagi audiens dan mencolek ketakutan mereka akan ketinggalan (FOMO) pada konten yang baik. Pandemi juga berperan dalam mendorong TikTok menjadi yang terdepan dalam konten video berdurasi pendek yang dibuat oleh pengguna. Tentu saja, YouTube telah ada sejak lama dibandingkan dengan platform yang relatif baru, tetapi nilai jual utama di balik TikTok adalah durasi videonya. Seperti Facebook dan Snapchat Stories, TikTok membuat hal-hal singkat dan manis untuk memanfaatkan rentang perhatian massa yang pendek, dengan video mulai dari beberapa detik hingga tidak lebih dari tiga menit.

  • Peningkatan Fokus pada Micro-Influencers

Meskipun memang bukan tren baru, influencer masih diharapkan untuk tetap menjadi taktik pemasaran yang penting di tahun 2022. Namun, banyak brand mengakui ada kekuatan di balik following yang lebih kecil daripada mega-influencers dan selebriti. Alih-alih menghabiskan banyak uang untuk menghadirkan selebritas atau model terkenal untuk menyampaikan pesan mereka, mereka menyadari bahwa sebagian besar konsumen menanggapi seseorang yang relatable. Dengan demikian, brand terus condong ke micro-influencer (10 ribu – 100 ribu follower) yang mengungguli rekan-rekan mereka yang “lebih populer” dengan tingkat engagement yang lebih tinggi, pengikut yang lebih setia, dan yang lebih hemat anggaran.

Baca Juga  Cara Mengaplikasikan Strategi Marketing Efektif Dalam Meraih Laba Dalam Berbisnis

Add comment: